Perindo, Partai Politik Pertama yang Tancapkan Bendera di Puncak Gunung Alpen

JAKARTA – Ketua Dewan Pembina Rescue Perindo menancapkan bendera kebesaran Partai Perindo di saat menyusuri luasnya pegunungan Alpen di Eropa. Perjalanan salah satu inisiator Rescue Perindo tersebut menempuh ribuan kilometer mengitari berbagai negara di Eropa Barat.

Persiapan pun dimulai dari negeri Pizza, Itali. Saat itu, tim dibantu oleh salah satu warga setempat bernama Andrea Milano untuk merancang rute. Awalnya tim hendak menyewa motor dari Itali, tetapi harga yang tak terjangkau membuat tim mengalihkan jalur awal pendakian di Amsterdam, Belanda.

“Kebetulan saya mempunyai kawan orang Belanda yang bersedia menjadi road captain yakni Coen Hoogendijk rider dari Belanda. Mulailah kita mempersiapkan visa, tiket dan segala sesuatu persiapan untuk keberangkatan. Kita pelajari perjalanan di sana, rute, lalulintas, suhu dan tentunya komunikasi,” jelas Wijaya Kusuma saat menceritakan pengalamannya kepada Okezone, Kamis (27/4/2017).

JAKARTA – Ketua Dewan Pembina Rescue Perindo menancapkan bendera kebesaran Partai Perindo di saat menyusuri luasnya pegunungan Alpen di Eropa. Perjalanan salah satu inisiator Rescue Perindo tersebut menempuh ribuan kilometer mengitari berbagai negara di Eropa Barat.

Persiapan pun dimulai dari negeri Pizza, Itali. Saat itu, tim dibantu oleh salah satu warga setempat bernama Andrea Milano untuk merancang rute. Awalnya tim hendak menyewa motor dari Itali, tetapi harga yang tak terjangkau membuat tim mengalihkan jalur awal pendakian di Amsterdam, Belanda.

“Kebetulan saya mempunyai kawan orang Belanda yang bersedia menjadi road captain yakni Coen Hoogendijk rider dari Belanda. Mulailah kita mempersiapkan visa, tiket dan segala sesuatu persiapan untuk keberangkatan. Kita pelajari perjalanan di sana, rute, lalulintas, suhu dan tentunya komunikasi,” jelas Wijaya Kusuma saat menceritakan pengalamannya kepada Okezone, Kamis (27/4/2017).

“Komunikasi menjadi penting, karena sekali kita hilang di negeri orang, maka cari jalannya balik menjadi susah. Peserta yang ikut adalah Dedi Mulyadi, Arif Suryono, Wawan, Wijaya Kusuma, Basri Kamba dan Istri, Heri Cahyono, Mufti, Andrea Milano, Heri Luthfi Thaeb, Badawi, Fauzan Susanto, Bambang Sukarsono, Fauzan Susanto. Sebagian besar justru penggemar olah raga speed offroad. Namun kami punya keinginan sama, menjelajah penjuru dunia mengendara motor. Setelah tahun lalu kami ke Himalaya melalui Jalur Annapurna, maka tahun ini kami mencoba keliling Eropa Barat,” papar Wijaya.

Pemberangkatan

Tim berangkat pada tanggal Jumat, 14 April 2017 dengan menggunakan Emirate Airlines EK 369 dengan tujuan Dubai pada pukul 07.25 pagi, kemudian menuju Belanda dengan penerbangan nomor EK 149 hingga pukul 20.00 malam.

“Esok harinya kami keliling Kota Amsterdam, sore hari kami ketempat penyewaan motor yang terletak di Amsterdam-Duivendrecht, kami melakukan penyesuaian motor dan melunasi biaya sewa motor. Sebagian besar teman teman membeli perlengkapan riding gear. Sementara bang Aik (Heri Luftfi Thaeb), Badawi dan Mas Bambang Karsono mengambil mobil Mercedes Sprinter Van. Motor yang kami gunakan pun bervariasi, ada BMW GS 1200, Afrika Twin, Honda VFR1200X, Super Tenere, Crossrunner dan Brugman,” jelas Wijaya sembari melanjutkan perjalanan.

Minggu 16 April 2017 dini hari tim mulai bergerak menuju Luxembourg, melalui Maastricht, Belanda. Jarak tempuh jalur Maastricht hingga Luxembourg mencapai 217 Km perjalanan melalui jalanan highway. Ancaman seperti hujan dan cuaca dingin mengancam perjalanan tim saat itu. Dengan kecepatan rata-rata 130 KM/jam, tim sampai di Luxembourg pukul 11.00 waktu setempat. Setelah makan siang, tim berfoto ria di Cathedral Basilica of Saint Servatius, gereja tua yang dibangun tahun 1180.

“Perjalanan dilanjutkan menuju Luxembourg melalui jalanan yang indah dan berliku. Kami menginap di atas bukit di Hotel Campanile Luxembourg. Sampai di sini motor yang saya kendarai sempat overheating dan lampu tanda radiator bernyala kembali, saya sudah mulai kuatir tapi kalau di jalanan lurus motor normal kembali. Surprise, disini kami ketemu dengan Sahabat lama bule jawa yang lama tinggal di Bali, Andrea Milano. Dia rupanya sudah naik motor dari Milan ke Luxembourg sendirian. Senang rasanya ketemu sahabay lama di Luxembourg, kita akhirnya ngobrol panjang dan bercanda ria hingga malam hari,” papar Wijaya mengenang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s