Hadiri Pelantikan Donald Trump, Hary Tanoe Tanggapi soal Pilpres 2019

WASHINGTON – Bos Media Nusantara Citra (MNC) Group Hary Tanoesoedibjo menanggapi kabar beredar soal pencalonannya pada Pilpres 2019 di sela-sela acara pelantikan Presiden AS Donald Trump.

Meskipun memiliki pengalaman bisnis dan politik yang cukup lengkap, pria yang akrab dipanggil Hary Tanoe itu mengatakan terlalu pagi untuk memutuskan apakah ia akan kembali ikut bertarung pada pemilu 2019.

Hal ini disampaikannya kepada wartawan VOA Eva Mazrieva dalam wawancara pada akhir pelantikan Presiden Donald Trump, Jumat (20/1/2017) siang.

“Terlalu pagi untuk memutuskan sekarang. Mungkin pada semester kedua tahun 2018 saya baru memutuskan akan maju atau tidak,” ujarnya seperti dikutip VOA Indonesia.

Menurut Hary Tanoe, Indonesia memerlukan pemimpin yang mengerti dan bisa menyelesaikan masalah, memberi solusi bagaimana tingkat perekonomian bisa tumbuh pesat tapi pada saat bersamaan tidak menambah kesenjangan sosial sehingga masyarakat bawah bisa terangkat kesejahteraannya. Kemudian, bagaimana mempercepat pendidikan, meningkatkan lapangan kerja, pemberantasan korupsi, penegakan hukum, melawan narkoba, juga pertahanan keamanan.

“Kalau saya melihat ada calon pemimpin pada 2019 yang mampu meyakinkan bisa mengatasi hal tadi, saya lebih baik mendukung yang bersangkutan. Tapi jika tidak ada, mungkin saya akan maju,” ujar Hary.

Hary Tanoe hadir di antara massa yang menghadiri pelantikan Presiden Donald Trump di Capitol Hill, Washington DC. Presiden Komisaris MNC yang membawahi empat stasiun televisi berskala nasional itu mengatakan diundang untuk mengikuti seluruh acara, mulai dari konser hingga pesta pelantikan.

“Saya diundang dalam kapasitas sebagai partner karena ada proyek yang kita kerjakan di Bogor dan Bali. Saya diundang di semua acara, mulai dari kemarin di welcome concert, swearing in, parade, dinner, dan afterparty,” jelasnya.

Hary Tanoe, panggilan akrab pengusaha terkaya ke-29 di dunia versi majalah Forbes itu, menampik anggapan bahwa bahwa kehadirannya atau bisnis yang dijalinnya sejak lama denganDonald Trump akan memicu konflik kepentingan.

“Saya rasa tidak karena kerja sama ini sudah terjadi sejak ia belum mencalonkan diri sebagai calon presiden, kecuali jika ketika itu ia sudah mencalonkan diri sebagai presiden atau memenangkan pemilu dan baru dirancang kerja sama baru, nah itu baru ada konflik kepentingan. Apalagi beliau memutuskan anak-anaknya yang akan melanjutkan bisnisnya. Sejak jadi presiden pun ia sudah memutuskan tidak ada bisnis baru yang dilakukan oleh organisasi Trump,” ujarnya.

Dalam wawancara dengan kantor berita Reuters sehari sebelumnya, Hary Tanoesoedibjo mengatakan telah menandatangani kesepakatan bisnis dengan Donald Trump pada awal 2015 atau jauh sebelum pemilu Amerika. Kesepakatan itu mencakup pembangunan dua resor di Bogor dan Bali, yang akan dikelola oleh Trump Hotel Collection, yang berada di bawah payung Trump Organization. MNC telah menanamkan investasi antara 500 juta hingga satu miliar dolla ASr untuk pembangunan kedua resor yang diperkirakan akan siap beroperasi pada awal tahun 2019.

“Kami tidak menambah satu proyek baru pun ketika Trump memutuskan akan bertarung dalam pemilu. Jadi saya rasa tidak ada konflik kepentingan disini,” ujar Hary Tanoe kepada Reuters hari Rabu.

Selain berbisnis Hary Tanoesoedibjo terjun ke dunia politik. Ia pernah bergabung dengan Partai Nasdem pada Oktober 2011, sebelum mengundurkan diri dua tahun kemudian karena perbedaan pandangan mengenai struktur kepengurusan partai. Ia kemudian sempat menjadi anggota Partai Hanura dan berpasangan dengan Wiranto sebagai calon wakil presiden pada pemilu tahun 2014. Namun setahun kemudian, tepatnya pada 7 Februari 2015, pengusaha ini mengumumkan partai politik baru yaitu Partai Persatuan Indonesia atau Perindo.

Hary Tanoesoedibjo akan berada di Amerika hingga akhir pekan ini sebelum bertolak kembali ke tanah air.

Sumber

Iklan